Banyak? ikutan donk…Sedikit? hm…saya pikir2 dulu ya…

Pagi yang cerah…alhamdulillah, aq masih bisa bangun pagi..:-D (disamping bersyukur masih bisa bener2 bangun..lho?) setelah beres2 pakaian yang sudah kering setelah dicuci kemaren, aq kan berangkat k kantor. Kali ini, aq terlebih dahulu harus mengantar kakakQ ke kantorny d Pondok Indah, so, i’m SMS k si Bima, bahwa aq kan sampai kostanny sktr 40 menit lagi. Ya, memang selama ini, aq tidak langsung ke kantor, coz, aq berangktny bareng Bima, karena kita satu kantor, satu nasib sepenanggunan…hehe…:-D .Di perjalanan aq dan kakakQ mampir dulu d warteg langganan, beli makanan, karena hari ini kebetulan aq lagi ga’ masak nasi dan bikin makanan…hehe…makanan ini buat aq berbuka puasa, karena kebetulan hari ini aq lagi puasa…coz, lagi mau irit, abiznya klo deket kantor ‘rada’ mahal, selama ini aq merasa cukup boros, jadiny..ya…mari Berhemat!! (emang sich…beli makan d warteg jg belom cukup hemat, oleh sebab itu aq dan kakak berencana iuran utk beli ayam siap goreng di tetangga😀 pt pt gtu loh.)yup lanjut,,,

Setelah sampai mengantarkan kakak ke kantornya, aq langsung bergegas menuju kampung utan, lebih detailny ke kostanny si Bima, eh, ternyata ada si Hadi, ternyata dia ada d kostanny si Bima, sedang negoisasi ttg suatu hal (rahasia :-D). Lalu, tak berapa lama, aq dan Bima berangkat k kantor, si Hadi juga pergi pulang menuju kostanny.

Seperti biasa, aq lewat jalurnya 102, yaitu lewat Mustopo. Di lampu merah sekitar Plaza Senayan, aq berhenti (ya iyalah…kan sedang lampu merah), namun, walaupun lampuny sedang merah, kendaraan yang lain tetap melaju pergi, seolah tak melihat bahwa lampunya merah!! sehingga hanya aq sendiri (tentunya ma Bima dan motorQ lho…:-D ), memang sich, kondisinya memang sepi, tapi, apapun alasanya tetap saja, kurang baik kan kalo seperti itu,. namun, tak berapa lama, kendaran lain muncul dari belakang, dan…mereka tidak langsung jalan…bagus, gumamku, karena mereka masih mengindahkan peraturan!! namun, aq sadar sebenarnya ‘salah satu’ penyebab mereka mau berhenti saat lampu merah adalah ada yang menjadi teladan untuk berhenti saat lampu merah, yaitu aq sendiri!!😀 .Namun, disini aq tidak ingin membahas hal itu, karena itu hanyalah awal mula dari timbulnya pemikiran ini, yaitu paradigma “ikut-ikutan” dan “keteladanan”.
Yup, yang pertama tentang paradigma “ikut-ikutan” yang memang sudah populer sejak jaman dahulu kala, agak aneh memang, suatu kebenaran saat ini, sering kali dilihat dari banyakny orang yang memanggap sesuatu itu benar, kalo banyak orang bilang sesuatu hal itu benar, maka orang lain pun akan menganggap hal itu benar, tak peduli bahwa yang dianggap benar itu jelas2 salah!! jika sedikit orang yang menganggap sesuatu hal itu salah, maka kebanyakan orang akan menganggap hal itu salah, walaupun bisa jadi hal itu sesungguhny benar!! ckckck…sungguh fenomena yang unik, namun itu nyata!! itu realitanya…Contohny pada kasus diatas, saat sebagian kendaraan yang tetap melaju walaupun lampu merah, yang lain pun akan goyah…dan cenderung akan “ikut-ikutan”, “wah…dia aja tetap jalan, berarti ga’ papa, banyak temenny…”😀 . Trus, saat aq sendirian dan tak berapa lama kendaraan yang di belakang ikut muncul dan berhenti, mereka pun ada kecenderungan “ikut-ikutan”, “wah…dia aja berhenti, berarti gw jg sbaikny berhenti”.
Sebenarnya ‘penyakit’ ini sich ga’ menjadi masalah, asalkan pada hal yang baik, namun, faktanya lebih banyak yang mengikuti hal yang kurang baik😦 . Korupsi yang meraja lela, pergaulan bebas, dll. itu juga seringkali disebabkan oleh ‘penyakit ikut-ikutan’ ini, “ah..dia aja korupsi, masa’ gw kaga’ ikutan..rugi…” atau “ah…dia bisa kaya, masa’ gw ga’ bisa kaya” (akhirnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekayaan…naudzubillahi min dzalik).
Lalu, bagaimana untuk mengatasi hal ini?..salah satuny adalah dengan memunculkan “keteladanan” terhadap hal yang baik, semakin banyak orang teladan diantara kita, maka akan semakin baik, karena orang cenderung akan mengikuti…Tidak usah muluk2 untuk mengajak orang lain untuk berbuat baik, jika anda tak mampu mengajak, cukuplah anda yang berbuat baik (namun, lebih baik jika bisa mengajak orang lain juga untuk berbuat baik). Tidak usah bermimpi orang lain untuk berubah, jika anda tak berusaha merubah menjadi lebih baik, atau dengan kata lain tidak berusaha menjadi teladan buat orang lain. Bagaimana mungkin, suatu kelompok (baik itu negara, departemen, dll) bisa terbebas dari korupsi, jika pemimpinny juga korupsi, karena korupsi mampu di bumi hanguskan dengan keteladanan dari para pemimpin yang tidak korupsi. Setuju? Hanya hati nurani yang mampu menjawabny…

Jadilah sang teladan kebaikan!!

1 Response so far »

  1. 1

    princessay said,

    Setuju,,semakin kesini2,,pergeseran nilai apalagi keteladanan makin gak karuan..Banyak hal2 yang dibenarkan karena banyak pendukungnya…Padahal itu bukan kebenaran yg hakiki..Disinilah mengapa ALLAH menganugerahi manusia dengan HATI..Hati yang bersih bisa melihat dengan pandanganNya,,hati yang bersih bisa mendengar petunjukNya,,hati yang bersih bisa juga merasakan kehadiranNya..Sangsi atau tidak bahwa kita terus menerus diawasi,,tergantung tingkat kebersihan hati kita..Karena itu,,kita semua,,termasuk aku,,baiknya selalu lihat,dengar,rasakan dengan hati dahulu sebelum bertindak..Bukan tergantung ramenya massa..(emang mw demo??)


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: