Pemenang sesungguhnya

Tidak saja dalam pekerjaan manusia kini amat lapar kemenangan, nyaris di semua kesempatan manusia  teramat lapar dengan kemenangan. Perhatikan turnamen sepak bola dunia tahun 2010 yang  berakhir di Afrika Selatan. Semua kesebelasan datang hanya untuk menang. Cermati persaingan di dunia korporasi, semua mencari segala macam cara agar menang. Di jalan raya semua buru-buru duluan sampai di tempat tujuan. Bahkan di keluarga pun sama. Anak-anak dipacu menjadi juara, kedua orang tua juga berpacu di luar maupun di dalam rumah.

Sebagai hasilnya, tidak saja alam mengalami pemanasan global, hubungan antarmanusia juga mengalami pemanasan. Stres, depresi, kriminalitas, perang, bom teroris hanya sebagian contoh. Dan yang bertanggungjawab di balik semua ini, salah satunya adalah nafsu berlebihan manusia untuk senantiasa menang. Seperti seratus kepala cabang yang sedang  berkompetisi. Tidak mungkin semuanya menjadi juara satu. Pembawa piala juara satu selalu satu, sembilan puluh sembilan sisanya harus melatih diri untuk sejuk dan teduh tanpa kemenangan.

Sayangnya, ini yang teramat susah dilakukan manusia di zaman ini. Di Jepang malah lebih tragis lagi, begitu gagal mendapatkan judul kemenangan, tidak sedikit manusia yang kemudian bunuh diri. Di bagian dunia lain, tidak sedikit manusia yang menghabisi nyawa orang lain hanya agar mendapatkan judul kemenangan. Sehingga menjadi bahan renungan bersama, kemenangan memang sebuah energi kemajuan, tapi mesti ada yang memikirkan nasib manusia yang tidak memperoleh kemenangan. Terutama agar kehidupan tidak selalu berujung pada jurang berbahaya tatkala kemenangan tidak di tangan.

Nelson Mandela adalah sebuah cahaya. Tidak saja pernah dihempaskan ke jurang kekalahan oleh lawan politiknya, malah dipenjara selama dua puluh tujuh tahun. Lebih dari dipenjara saja, berkali-kali nyaris kehilangan nyawa. Sakit, pedih, sedih, itulah menu kesehariannya selama lebih dari seperempat abad. Namun sebagaimana cahaya-cahaya lain yang pernah lahir, tatkala kesedihan dan kepedihannya berakhir,  kemenangan kemudian ada di tangan, Nelson Mandela tidak menunjukkan tanda-tanda berlebihan. Lebih-lebih menggunakan kemenangan sebagai awal dendam.

Setelah menang, memegang tampuk kekuasaan, tidak selamanya kehidupan berpihak pada dirinya. Tidak semua garis kebijakannya diteruskan penggantinya, kehidupan rumah tangganya malah harus ditandai perceraian. Tapi lagi-lagi tokoh perdamaian ini tidak menunjukkan tanda-tanda panas berlebihan seperti marah. Pelajarannya sederhana, kemenangan   tidak   kekal.   Untuk   itu,    bagus    kalau   bisa membekali diri agar teduh baik dalam kemenangan maupun kekalahan.

Serupa gelombang samudera, kadang naik kadang turun. Mirip dengan permukaan bumi, di mana saja ada tebing tinggi selalu disertai oleh jurang yang dalam. Demikian juga dengan kemenangan. Ada saatnya kemenangan harus berganti dengan kekalahan. Namun di tangan cahaya seperti Nelson Mandela, kekalahan adalah guru terbaik untuk selalu empati, peduli dan rendah hati.

Dari sini bukan maksud tulisan ini untuk mengajarkan agar selalu kalah. Namun seirama dengan putaran alam, tatkala naik bersama dengan kemenangan, siapkan mental sejak awal bahwa kemenangan hanya sementara. Kemenangan selalu – sekali lagi selalu – diikuti kekalahan. Dan tatkala kalah, ia menjadi ujian sesungguhnya, apakah seseorang memiliki kekokohan kebijaksanaan di dalam dirinya.

Bulan September 2010, sahabat-sahabat Muslim baru saja merayakan kemenangan spiritual. Setelah menahan lapar, kemarahan, kebencian dan sejenisnya selama sebulan, kemudian merayakan kemenangan spiritual di hari Lebaran. Tentu saja perayaan ini membahagiakan. Lebih membahagiakan lagi bila bisa membawa kemenangan di bulan Ramadhan menjadi kemenangan-kemenangan sejuk dalam keseharian. Maksud kemenangan sejuk sederhana, tidak perlu congkak tatkala menang, tidak perlu terbakar kemarahan ketika kalah.

Itu sebabnya, mengakhiri turnamen sepak bola dunia 2010 di Afrika Selatan, ada yang menulis: “Spanyol boleh membawa pulang piala dunia. Tapi pemenang sesungguhnya adalah Nelson Mandela”. Sebuah kesimpulan yang amat menyejukkan di tengah dunia yang terus memanas.

Bahan renungan:

1.    Kemenangan adalah sejenis energi yang membuat kehidupan jadi hidup melalui karya, kerja, usaha
2.    Tapi serupa gelombang lautan, setelah naik akan turun, setelah bergejolak ganas harus istirahat dengan cara mencium bibir pantai. Kemenangan juga serupa, ia selalu disusul dengan kekalahan di waktu berikutnya.
3.    Sejuk saat di atas (baca: menang), teduh tatkala di bawah (baca: kalah) itulah yang dilakukan para bijaksana. Sekaligus, itulah pemenang sesungguhnya

source : http://gedeprama.blogdetik.com/2012/03/16/pemenang-sesungguhnya/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: